|
Temuan-temuan
Meningkatkan Harapan Bagi Kemajuan pada Vaksin AIDS
Para
ilmuan berkata risiko infeksi HIV berkurang hampir sepertiga
dalam sebuah studi besar di Thailand. Transkrip siaran radio: 29
September 2009. Ini adalah Laporan Kesehatan VOA Special
English.
Peneliti-peneliti AIDS berkata mereka masih memiliki banyak
pekerjaan yang harus dilakukan untuk sebuah vaksin yang melawan
H.I.V. Namun laporan-laporan pertama mengenai sedikit kesuksesan
telah menaikan harapan. Ilmuan menyatakan sebuah vaksin
eksperimental mengurangi risiko infeksi pada manusia sebanyak
tiga puluh satu persen dan aman.
Studi
tersebut dirancang untuk menguji dua kemampuan. Yang satunya
adalah kemampuan vaksin untuk mencegah infeksi H.I.V. Dan yang
lainnya adalah kemampuannya untuk mengurangi jumlah virus dalam
darah manusia yang menjadi terinfeksi selama studi.
Sukarelawan menerima vaksinasi selama periode enam bulan dan
dites H.I.V. selama tiga tahun tambahan. Studi itu dimulai pada
tahun 2003. Ini adalah pengujian vaksin AIDS terbesar yang
pernah ada. Pengujian tersebut melibatkan lebih dari enam-belas
ribu orang dewasa di Thailand.
Separuh menerima vaksin itu. Separuh lainnya menerima placebo,
suatu zat yang tidak aktif. Sukarelawan tidak mengetahui manakah
yang mereka terima.
Tujuh
puluh empat orang dalam kelompok placebo menjadi
terinfeksi selama studi itu. Para peneliti berkata bahwa ini
dibandingkan dengan hanya lima puluh satu dari mereka yang
menerima vaksin.
Doktor Supachai Rerks-Ngam, yang memimpin studi untuk Kementrian
Kesehatan Umum Thailand, menyebutkan penelitian tersebut sebagai
sebuah terobosan ilmu pengetahuan.
The Surgeon General Ketentaraan Amerika Serikat mensponsori
penelitian itu dan merilis hasil-hasil akhir minggu lalu.
National Institutes of Health juga mengambil bagian. Doktor
Anthony Fauci di N.I.H. menyebut temuan-temuan itu suatu langkah
maju yang penting. Dia berkata studi ini menghadirkan untuk
pertama kali vaksin H.I.V. investigational telah menunjukkan
suatu kemampuan dalam mencegah infeksi. Namun dia berkata pula
penelitian tambahan diperlukan untuk lebih memahami bagaimana
vaksin mengurangi risiko pada individu-individu itu.
Vaksin tidak mengurangi jumlah virus di dalam darah sukarelawan
yang menjadi terinfeksi selama penelitian berlangsung.
Studi tersebut didasarkan pada versi-versi H.I.V. yang umum
ditemukan di Thailand. Para sukarelawan menerima suatu kombinasi
dari dua vaksin. Vaksin yang pertama, atau prime, berasal
dari perusahaan Sanofi Pasteur. Vaksin yang kedua, atau
booster, dikembangkan oleh VaxGen. Kelompok nonprofit
Global Solutions for Infectious Disease sekarang memiliki
hak untuk vaksin itu.
Tak
satu pun dari kedua vaksin-vaksin itu berhasil ketika diuji
sebelumnya. Hasil yang lebih terperinci dari penelitian ini akan
dipaparkan di sebuah konferensi vaksin AIDS di Paris bulan depan.
Dan inilah Laporan Kesehatan VOA Special English, ditulis oleh
Caty Weaver. Untuk berita kesehatan yang lainnya, kunjungi
voaspecialenglish.com. Saya Steve Ember. Diterjemahkan oleh
Charles Roring dari: Study on
AIDS Vaccine in Thailand
Lihat
juga:
|